Selembar Kenangan Michin-Michin Scientist

Tak  terasa, gelar MABA  yang melekat  di name tag kami telah pudar. Tugas ospek memang berat, tapi tak seberapa bila dibandingkan kesibukan praktikum mahasiswa semester 3 jurusan Biologi. Kegiatan akademis seperti kuliah, ekspedisi alam, pengamatan di laboratorium, analisis data, bahkan menulis makalah 5 judul per minggu sudah biasa kami jalani. Dengan pressure sebesar itu, apa lagi yang kami lakukan untuk menghibur diri selain bercanda dengan-teman teman? Hal ini mengingatkanku pada kisah awal mengemban predikat sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di kotaku.

Namaku Kirana. Aku bukanlah mahasiswi yang pandai dan rajin seperti kebanyakan teman-temanku di jurusan ini. Kebiasaanku yang santai, suka bercanda dan tidak terbebani jelas sangat mencolok dibandingkan lainnya. Beruntungnya aku memiliki teman-teman sepermainan yang bisa dibilang se-jenis sepertiku. Teman-teman biasa menyebut kami “Geng Michin”, sekelompok mahasiswa santai yang tidak sengaja dipersatukan di kelompok 1 Praktikum Fisika Dasar. Julukan itu melekat karena kebiasaan kami yang suka makan bakso bermichin banyak di depan jurusan. Walau begitu, banyak dari kami yang cukup dapat bersaing di kelas. Kami hanya berkumpul untuk tidak merasa tertekan akan drastisnya kehidupan SMA dan kuliah di tahun pertama ini. Sejak awal menjadi MABA, pikiran kami sudah dipenuhi oleh ekspedisi alam yang akan dilaksanakan di akhir tahun. Suatu agenda besar yang ternyata akan menjadi kenangan terakhir dengan salah satu orang yang paling kami sayangi di Geng Michin. Sebut saja Cowo, seorang member Michin yang paling ganteng (karena dia satu-satunya cowo).

photo_2018-09-30_21-02-50

Kebun Raya Purwodadi adalah perjalanan pertama kami sebelum benar-benar menyentuh keganasan alam yang sebenarnya di Alas Purwo Banyuwangi. Ini adalah foto yang diambil 5 April 2018 lalu. Kami selaku Geng Michin tersebar di bebagai kelompok pengamatan tumbuhan. Panasnya sengatan sinar mentari April waktu itu masih dapat kurasakan malam ini. Aku ingat betul pembicaraanku, Cowo, dan seorang member Michin yang paling dekat denganku, sebut saja Ciwi (karena dia perempuan) di awal masuk gerbang Kebun Raya naungan LIPI terbesar di Jawa Timur ini. Ketika briefing dimulai, kami justru serius membahas rencana Cowo yang ternyata akan berhenti kuliah. Dia yang tak banyak bicara membuat misteri semakin menjadi. Hal ini terus berlanjut ketika ekspedisi ke Alas Purwo Banyuwangi. Konon, setiap tahunnya ekspedisi ini selalu menyebabkan satu anggota rombongan biologi kesurupan. Aku takut hal itu akan terjadi pada salah satu dari kami. Hal yang paling tidak disangka, Ciwi yang duduk sebangku denganku di bis terpaksa tidak berangkat dan dipulangkan di tengah jalan karena penyakitnya. Cowo menemaniku mengantarnya dan menanti dokter di Rumah Sakit. Seluruh rombongan menunggu di bis. Hanya aku dan dia yang menunggui Ciwi di teras Rumah Sakit. Pada saat perjalanan pulang, aku sangat bersyukur karena angkatanku tidak ada yang kesurupan, tetapi itu juga menandakan akhir dari kebersamaan Michin.

Ini adalah lembar pengamatan yang sempat kufoto ketika briefing berlangsung dan jalan setelah gerbang masuk.

Mengingat awal mendengar berita itu, aku dan Ciwi jelas menolak keinginannya untuk berhenti kuliah. Kami  menolak tanpa tahu bahwa dalam hatinya yang terdalam ia ingin menggapai cita-citanya. Waktu itu dia tidak mau menjawab. Kesalahpahaman itu akhirnya terjawab setelah dia resmi berhenti di tahun ke dua. Foto bisu ini sedikit mengingatkanku akan kenangan itu. Debut awal kami sebagai seorang saintis yang dipenuhi warna tawa pertemanan. Walau sempat menyesal tak banyak berfoto bersama, kami percaya bahwa setiap dari kami akan menemukan jalan masing-masing. Hanya saja, dia tidak ditakdirkan berjalan di dekat kami lagi, untuk saat ini. Setiap melihat bakso depan jurusan, foto Kebun Raya Purwodadi, dan cerita tentang Alas Purwo, kenangan ini mudah sekali terbesit dalam pikiranku.

Kenangan Tak Terlukis dan Masa Depan

Sepertinya terdengar aneh bila kenangan tak dapat dibuktikan dengan sebuah foto di abad ini, tapi itulah yang terjadi padaku. Memori smartphone yang kurang begitu banyak membuatku super selektif untuk menjepret setiap momen yang terjadi. Walau tak ada foto kenangan, cukuplah memori menjadikannya lebih berarti. Bagiku, kenangan bersama teman adalah penyemangat di tahun perjuangan itu. Jika di tanganku ada smartphone yang bisa menangkap gambar dengan indah,maka tak perlu risau akan memori yang full, dan tidak mudah lemot ingin sekali ku kembali kesana dan membayar semua kenangan tak berwujud itu.

Selain mengingat kenangan yang memorable dan tiada habisnya bercerita, akan sangat berguna bagiku sebuah smartphone yang berkamera bagus. Aku akan mempergunakan sebaik-baiknya untuk mengambil foto-foto pengamatan mulai dari view yang luas seperti ekologi sabana, bahkan foto Lactobacillus bulgaricus hasil mikroskop di laboratorium yang selalu dilampirkan di laporan praktikum. Bahkan beberapa kegiatan riset bersama Professor mengharuskan dokumentasi yang professional akan prosedur-prosedur percobaan. Hal tersebut sangat penting untuk penelitian yang berstatus high quality. Akanlah mudah bagi sebuah smartphone berteknologi AI (Artificial Inteligent) untuk melakukannya dalam sekali jepretan saja. Gambar akan makin bagus jika kamera berteknologi AI, dan dilengkapi 2 kamera depan dan 2 kamera belakang.

Nova-3i

Kampuan foto yang bagus tidak akan berarti tanpa adanya memori penyimpanan yang besar. Pengamatan, observasi, dan wawancara mendadak sangat sering untuk dilakukan. Amatlah sayang apabila aku melewatkan data berharga begitu saja hanya karena alasan memori penuh. Selain itu, sebagai mahasiswa yang suka observasi bisnis, aku suka memantau perkembangan bisnis startup dengan mendownload berbagai macam aplikasi baru. Dengan banyaknya apliksi perlu sekali performa GPU Turbo. Semakin lengkap kalau memorinya mencapai 128 GIGA. Apalagi dapat memindahkan aplikasi yang selama ini hanya bisa diakses di laptop menjadi sekali sentuh di layar smartphone akan sangat menghemat banyak waktu dan tenaga. Memori penyimpanan jurnal dan E-book juga lumayan  berguna untuk mengisi waktu menanti kelas, rapat-rapat organisasi yang tak kunjung mulai, bahkan hemat biaya print dan dapat meminimalisasi penebangan pohon secara tidak langsung.

huawei-nova-3i-9

Soal penampilan, smartphone full view display akan memudahkanku untuk mengamati hasil jepretan pengamatan secara detil. Warnanya yang kontras akan memudahkan pencarian ketika seringkali kehilangan smartphone di rumah menjelang buru-buru berangkat kuliah. Dan yang tidak kalah penting adalah tampilan warna yang mendekati hasilnya pada smartphone akan sangat memudahkan proses indentifikasi. Kesan professional akan makin tampak dengan desain  smartphone yang premium. Menurutku warna yang paling cocok adalah gradasi warna ungu neon dan biru yang menggambarkan kalemnya seorang cewe.

fd618a4eb5ef3815ac207510aafb978e

Dengan memilikinya, bukan hanya melengkapi kenangan di masa lalu, tetapi juga menyongsong masa depanku sebagai seorang ilmuwan yang professional. Huawei Nova 3i benar-benar cocok dengan kriteria smartphone idamanku di tahun 2018.

 

“Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s